[Resensi] Stardust

Judul : Stardust

Pengarang : Neil Gaiman

Tahun : 1998

Penerbit : William Morrow

Genre : Fantasi

Tebal : 250

Sinopsis

Tristran Thorn, seorang pemuda akan melakukan apa saja untuk memperoleh hati sang kembang desa, Victoria – bahkan bila itu mengharuskan dirinya memungut bintang jatuh yang mereka saksikan bersama di suatu malam hari. Namun untuk mencapainya, dia harus memasuki sebuah negeri tak terjamah yang tidak pernah disentuh manusia sebelumnya. Di negeri yang berada di balik tembok yang telah memberi nama bagi desanya, Tristran segera belajar bahwa apa yang diketahui selama ini tidak seutuhnya berlaku di negeri tersebut, termasuk bintang jatuh yang ia kejar.

Ulasan

Saat melacak fantasi balik ke akarnya, kita bisa menemukan dua tipe cerita: epos atau dongeng. Berabad lamanya peradaban manusia di seantero bumi, pembagian dua tipe ini berlaku luas dan bertahan cukup lama. Epos biasanya dipergunakan untuk mengisahkan asal muasal bangsa, negeri, atau sosok pemimpin. Dongeng di lain pihak cenderung lebih kecil dalam cakupannya sebagaimana ia fokus untuk menyampaikan satu (kadang lebih) pesan.

Memang dua tipe fantasi ini masih bertahan hingga hari ini. Hanya saja bila kita tengok fantasi di ranah yang lebih modern, sebenarnya ada ketimpangan yang terjadi di antara keduanya. Berkat ketenaran Lord of the Rings fantasi epos jadi berada di tempat duduk terdepan saat merepresentasikan genrenya. Sulit rasanya bagi orang awam untuk membayangkan cerita fantasi yang nggak melibatkan benua fiktif, konflik antar kerajaan yang berlangsung berabad-abad, dan perseteruan kuno para dewata di atas mahluk insani. Bahkan cerita yang ditulis sebagai versi anti darinya seperti A Song of Fire and Ice (lebih dikenal sebagai Game of Thrones) masih bermain dengan alat dan peraturan yang sama. Yang membedakannya hanyalah siapa dan bagaimana memainkannya.

Dongeng di lain pihak nampaknya nggak cukup beruntung mengalami renaisans yang serupa. Tiada cerpen atau novel yang cukup tenar untuk menghasilkan ribuan peniru dan pengikut yang menggubah kisahdalam nafas yang sama. Fantasi dongeng seolah tergeser ke ranah cerita anak-anak, dan meski demikian terlalu simplistik dalam sifatnya hingga kebanyakan dari mereka hanya menyerupai imitasi buruk belaka. Bukannya ingin menampik bahwa fantasi dongeng yang bagus musnah, hanya saja kehadiran mereka yang berhasil menghidupkan kembali keajaiban dalam kesederhanaan tertutup oleh hingar-bingar epos megah nan epik.

Sebenarnya pembagian ragam cerita fantasi berdasarkan dua kategori di atas tadi nggak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya. Kebanyakan fantasi yang saya lahap dari berbagai media memperlihatkan wajah cerita yang epik. Bahkan saat saya mulai menjelajahi genre fantasi lebih dalam sejak 6 tahun yang lalu, dongeng sebagai salah satu ragam akar tradisi fantasi masih luput dari mata saya. Rasanya hal ini terjadi karena sedikitnya karya fantasi modern yang berusaha menghidupkan tradisi tersebut, atau berhasil dalam upayanya.

Hingga saya membaca Stardust. Karya Neil Gaiman ini telah membuka, atau mungkin lebih tepatnya mengukuhkan di mata saya bahwa fantasi memiliki tradisi kuno yang nggak hanya terdiri dari cerita epos belaka. Ada kisah-kisah fantastis yang sifatnya personal, terbatas, namun nggak berkekurangan dalam daya magisnya untuk menghadirkan keajaiban dan ketakjuban.

Ini bukan kali pertama pertemuan saya dengan tulisan Gaiman. Karya pertama darinya yang saya ialah The Graveyard Book kemudian diikuti dengan The Ocean at the End of Lane. Kedua novel itu memang menyerupai cerita dongeng. Tapi dongeng modern, seperti misal yang ditulis Road Dahl. Lantas keajaiban yang diberikan pun memliki rasa yang modern pula. Bukan hal yang buruk, hanya saja itu berarti keduanya menghadirkan keajaiban dan ketakjuban yang jauh berbeda dari Stardust.

Dongeng di dalam Stardust terasa lebih tua. Kisah yang dituturkan memberi nuansa yang ke masa yang lampau, seperti dongeng-dongeng Grimm Bersaudara. Atau bahkan lebih dari itu. Ia membawa pembacanya turut serta ke sebuah tempat dan waktu yang lekang dan luput dari catatan zaman. Di mana semua terasa ajaib, baik yang bahaya mau pun yang berbahaya. Pencapaian yang rasanya mustahil terjadi bila bukan karena kemampuan Gaiman dalam mengolah narasinya.

Salah satu jebakan yang kerap menghantui cerita dongeng ialah kesederhanaan yang disamaartikan sebagai kedangkalan. Narasi yang dituturkan hanya sekedar menjadi kendaraan bagi nilai atau wejangan moral belaka. Akhirnya cerita dongeng seringkali terasa bahwa eksistensinya ditentukan sekedar dari makna apa yang dibawanya. Karakter yang ada bagai boneka, keinginan mereka diluputkan dari cerita.

Stardust menghindari hal tersebut justru dengan membangun dongeng berkisar pada karakternya. Mereka diberikan motivasi atau mimpi tersendiri untuk dikejar, yang tatarannya sederhana sehingga nuansa dongengnya tidak serta merta hilang ke dalam kompleksitas. Lalu dengan menggunakan interaksi antar karakternya Gaiman untuk menghadirkan nilai-nilai yang hendak dituturkannya. Hasilnya Stardust nggak terasa dangkal dan di saat yang bersamaan, memiliki kesederhaan cerita yang dapat membuat takjub orang dari segala usia, bukan cuma anak-anak.

Rasa-rasanya memang kesederhaan dalam keseluruhan Stardust yang begitu mengesankan bagi saya. Tidak ada konsep yang rumit. Tiada sihir yang mengawang di awan. Tidak ada pula penjelasan yang kelewat panjang menjelaskan apa yang terjadi. Gaiman membiarkan narasinya mengalir begitu saja. Ia memberikan kesempatan pada karakter dan cerita untuk menjelaskan dirinya sendiri, yang jelas nggak akan berhasil bila saja bukan karena bersikap sederhana.

Di saat yang bersamaan, Stardust tetap berhasil memberikan keajaiban serta ketakjuban yang tak terkira. Atau justru ia jadi tak terkira karena rasa tersebut justru lahir lewat kesederhanaan. Saya mau tak mau justru merasa kagum pada Gaiman yang berhasil menghadirkan keajaiban dari hal-hal yang biasa luput dari mata saya sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa fantasi bisa ditunjukkan nggak hanya melalui mitos penciptaan, tapi dengan kejenakaan seorang pemuda yang hendak mengambil bintang jatuh demi perempuan yang dicintainya.

Bisa dikatakan bahkan di antara karya Gaiman yang lain Stardust itu berbeda. Nggak mengherankan karena dia pun mengaku bahwa nobel ini memang ditulis untuk menghidupkan kembali fantasi era pra-Tolkien, di mana fantasi masih terasa personal dan lebih dekat. Meski saya katakan berbeda, perbedaan itu sebenarnya hanya terdapat pada nuansanya: antara karya Gaiman lain yang modern dan Stardust yang kuno. Karena semuanya (yang sudah saya baca) memiliki persamaan yang lebih nampak daripada perbedaannya.

Yakni menghadirkan keajaiban melalui kesederhanaan, selayaknya dongeng-dongeng yang lekang oleh zaman.

One thought on “[Resensi] Stardust”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: