[Resensi] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

700-sdrhdt2015.jpg

Judul : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Genre : Realism
Tebal : 250

Sinopsis

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Ulasan

10 tahun telah berlalu semenjak Lelaki Harimau diterbitkan. Sebuah rentang waktu yang cukup panjang terutama untuk karya prosaik Eka Kurniawan yang tebalnya hanya 198 halaman. Dari 2004 hingga 2014, dia kembali bergelut di dunia cerpen dan merilis sampai dua kumcer. Nggak benar-benar mundur dari dunia kepenulisan, tapi butuh satu dekade bagi Eka Kurniawan untuk kembali menjajal ranah novel kembali.

Saya belum membaca kumcer lainnya, jadi saya benar-benar buta akan perkembangan atau eksperimen yang mungkin dilakukan Eka Kurniawan dalam satu dekade semenjak Lelaki Harimau. Satu dekade memang lama, namun nggak sedikit pula nggak jarang seorang penulis terjebak pada zona nyaman yang membuat mereka tidak mampu lepas dari bayang-bayang karya sebelumnya yang dirasa paling baik. Entah oleh publik atau oleh sang penulisnya sendiri.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (kedepannya akan saya sebut sebagai Seperti Dendam, saja) sebenarnya direkomendasikan pada saya sebelum Lelaki Harimau oleh seorang teman. Dia memberi impresi yang cukup positif pada buku yang dianggapnya penuh dengan black comedy. Hanya saja dari internet dan juga orang lain, banyak yang mengatakan bahwa Seperti Dendam merupakan karya yang lebih kecil atau lesser dibandingkan dengan Lelaki Harimau. Saya nggak begitu mengindahkan impresi ini, tapi nggak bisa disangkal pula bila sebuah ekspetasi telah sedikit terpatri di benak saya.

Setelah membaca Seperti Dendam, saya harus bilang betapa salahnya impresi tersebut. Minimal nggak sepenuhnya benar sebagaimana Seperti Dendam sungguh merupakan karya Eka Kurniawan yang patut mendapat namanya sendiri. Bila kita menarik balik hingga Corat-Coret di Toilet, bisa dibilang Lelaki Harimau dan Seperti Dendam bagai satu koin dengan dua sisi berlainan. Namun bila di kumcer pertamanya Eka Kurniawan mencari suara, pada dua novel ini dia berhasil menemukan apa yang dia inginkan.

Perbedaan antara kedua novel tersebut bisa dibilang lebih dashyat daripada yang banyak orang katakan. Bila Lelaki Harimau merupakan cerita surealis dengan bungkusan realis, maka Seperti Dendam adalah kebalikannya di mana cerita realisnya terbungkus dengan surealisme. Kontras antara keduanya begitu tertampak pada gaya tulisan yang dipergunakan Eka Kurniawan pada masing-masing novel. Saya rasa perbedaan yang begitu gamblang ini yang menjadikan Seperti Dendam mendapatkan penilaian yang tidak adil; ketika di mana orang mengharapkan Eka Kurniawan untuk menulis sesuatu yang mirip dengan Lelaki Harimau tapi yang didapat justru hal lain yang sungguh berbeda.

Gaya bahasa yang digunakan Eka Kurniawan untuk Seperti Dendam benar-benar berkebalikan dari yang ada di Lelaki Harimau. Di sini dia menggunakan diksi dan struktur kalimat yang lebih lazim ditemukan dalam prosa daripada puisi seperti sebelumnya. Gaya narasi yang dituturkannya pun terasa lebih “membumi” sebagai akibatnya. Jikalau boleh mengambil perbandingan dari salah satu cerpen di Corat-Coret di ToiletSeperti Dendam itu sama persis dengan Kandang Babi dalam gaya penuturan dan bahasa.

Walau dikatakan “sederhana” dalam gaya bahasa dan narasi, struktur cerita dari Seperti Dendam sendiri bukan tanpa tendeng aling-aling. Di sini narasi pun seringkali lompat maju-dan-mundur sesuai yang dibutukan oleh jalannya cerita, nggak jauh berbeda dari Lelaki Harimau atau bahkan bisa dibilang lebih sering. Bedanya di Seperti Dendam lompatan ini ditandai dengan pemenggalan dan penandaan paragraf, bukan mengalir tanpa hambatan seperti Lelaki Harimau. Meski demikian flow dan pacing dari Seperti Dendam sama sekali tidak terganggu dan tetap berjalan begitu lancar.

Kontras menarik muncul begitu struktur narasi tersebut bertemu dengan gaya bahasa yang sederhana. Ketika narasi dituturkan selayaknya cerita di warung kopi kerap kali lompat-mundur ditambah dengan adegan khayali yang disisipkan, mau nggak mau rasa realita yang ada pun menjadi kabur. Karakter dan cerita dalam Seperti Dendam kadang begitu absurd, namun penceritaan dan gaya bahasa Eka Kurniawan yang begitu lurus seolah membuatnya menjadi terasa nyata.

Meski  Lelaki Harimau dan Seperti Dendam begitu berbeda, masih ada persamaan antara keduanya. Kedua cerita Eka Kurniawan ini masih menunjukkan latar belakang selaku orang yang berasal dari daerah perdesaan Jawa. Karakter, permasalahan, serta nuansa setting dihadirkan bukanlah cerita-cerita metropolitan yang biasa ditemukan dari penulis lain. Seperti Dendam sebagaimana Lelaki Harimau merupakan ‘sastra kampung’ yang merupakan bagian dari identitas Eka Kurniawan.

Sayangnya, jangan berharap tema cerita ‘kekampungan’ yang ada di Seperti Dendam memiliki keseriusan yang sama dengan novel sebelumnya. Sebagaimana gaya narasi dan bahasanya, pada aspek ini pun Seperti Dendam bagaikan sebuah cermin. Karena yang dipertampakkan oleh Eka Kurniawan di sini bisa dibilang sisi ‘jenaka’ dari kehidupan kampung yang ada. Memang tema yang ada tetap memiliki keseriusan, tapi keseriusan tersebut nggak dipautkan menjadi pusat cerita sebagaimana yang terjadi dalam Lelaki Harimau. Dilihat dari aspek tersebut saya nggak heran apabila orang menganggap Seperti Dendam sebagai karya yang lebih kecil dibandingkan novel Eka Kurniawan sebelumnya.

Padahal selain dari persoalan tema yang memang saya anggap lebih lemah dari Lelaki Harimau, di novel ini Eka Kurniawan berhasil melampaui dirinya sendiri di bidang lainnya. Secara struktur Seperti Dendam memiliki kelebihan dengan alur cerita maju-mundurnya yang tertata secara rapi dan tetap mengalir. Dari awal hingga akhir kualitas prosanya lebih konsisten tanpa ada lonjakan maupun penurunan yang ganjil. Bisa dimengerti apabila kelemahan dari tema Seperti Dendam membuatnya lebih kecil dari Lelaki Harimau, tapi perbedaan kualitas di antara keduanya bagi saya sungguhlah tipis.

Banyak orang terkejut dan  menganggap Seperti Dendam hanyalah sekedar homage kepada novel stensilan di masa 80-90-an karena perbedaannya yang begitu drastis dari Lelaki Harimau. Padahal seperti yang telah saya katakan di awal, Seperti Dendam merupakan sisi lain dari Eka Kurniawan. Sisi yang sebenarnya telah dia tunjukkan lewat kumpulan cerpennya yang pertama. Sebagaimana Lelaki HarimauSeperti Dendam berhasil mengejawantahkan sisi tersebut menjadi suara yang utuh. Eka Kurniawan telah membuktikan bahwa dia melalui Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar, sebagai sastrawan yang benar-benar menguasai setiap suara yang dia miliki. Nggak hanya satu belaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: