[Resensi] Steering the Craft: A 21st-Century

25025684Judul : Steering the Craft: A 21st-Century Guide to Sailing The Sea of Story
Pengarang : Ursula K. Le Guin
Penerbit :  Mariner Books
Tahun : 2015
Genre : Non-Fiction
Tebal : 160

Sinopsis

Ursula K. Leguin, penulis fantasi dan sains fiksi tersohor Amerika Serikat menjabarkan komponen fundamental dalam kepenulisan, dimulai dari suara bahasa hingga konstruksi kalimat melalui sepuluh bab. Setiap bab menggabungkan contoh ilustratif dari karya klasik global dengan komentar cerdik Le Guin sendiri dan latihan yang diperuntukkan bagi perorangan atau pun grup penulis. Telah direvisi seutuhnya untuk menjawab tantangan dan kesempatan dalam dunia kepenulisan modern, buku pegangan ini ringkas dan sederhana untuk mebimbing ke dalam seni kesusastraan.

Ulasan

Beberapa tahun yang lalu (5 tahun lebih tepatnya) saya meresensi buku tentang menulis untuk pertama kalinya. On Writing-nya Stephen King begitu sering direkomendasikan bahkan oleh mereka yang nggak terlalu percaya dengan buku-buku panduan menulis karena isinya yang jujur, nggak mengeneralisir, namun juga inspiratif (sulit sekali menghindari kata ini). Sejauh ini nggak ada buku lain yang direkomendasi seperti On Writing, walau harus diakui saya sendiri pun nggak aktif mencarinya. Maka On Writing menjadi satu-satunya buku tentang kepenulisan yang saya baca dan tulis ulasannya, hingga saat ini.

Steering the Craft-nya Le Guin memang nggak se-terkenal On Writing-nya King (berlaku juga bagi popularitas penulisnya). On Writing mendapat versi terjemahannya di Indonesia, sementara Steering the Craft harus diimpor, nggak mengherankan mengingat hanya A Wizard of Earthsea yang dirilis di sini (itu pun dengan embel-embel menginspirasi Harry Potter!). Dari sisi rekomendasi, Steering the Craft pun jarang saya temui di luar yang menyebutnya. Apa itu artinya buku ini seperti panduan menulis lainnya yang ada hanya untuk dilupakan? Mungkin, bisa jadi. Saya sendiri bertaruh pada buku ini hanya karena nama dan reputasi Le Guin belaka. Walau dia memang penulis yang hebat, bukan itu artinya dia mampu mengajarkan orang lain untuk menulis seperti dia.

Pertaruhan saya boleh dikata sukses besar. Steering the Craft ternyata menjadi salah satu buku paling resourceful yang pernah saya baca, dan ini termasuk berbagai macam buku non-fiksi lainnya. Walau pun banyak bagian diperuntukkan untuk kepenulisan bahasa Inggris, pengetahuan yang ditulis Le Guin begitu kaya hingga kegunaannya menembus tembok bahasa. On Writing (buku tentang menulis) sesungguhnya berbeda dari Steering the Craft (buku panduan dan tentang menulis), tapi bagi saya gubahan Le Guin merupakan buku yang lebih baik.

Perlu diberitahu sebelumnya kalau ini bukan bias karena saya membacanya lebih dini. On Writing telah saya baca ulang tahun lalu dan kesan pertama yang didapat nggak berubah banyak, suatu hal yang jelas sangat baik! Hanya saja perkara kepenulisan yang dibicarakan dalam Steering the Craft memiliki relevansi karena kepraktisannya. On Writing merupakan sebuah memoar, cerita dan pendapat pribadi yang bagus sebagai acuan. Namun Steering the Craft adalah penjabaran atas fundamental menulis dengan tambahan pendapat yang cocok sebagai paduan.

Karena keringkasan Steering the Craft itu sendiri, saya nggak bisa membahas fundamental menulis yang dibahas dalam 10 bab-nya tanpa mengungkap isi bukunya kelewat banyak. Sementara saya merasa akan lebih baik bila orang membaca langsung Steering the Craft dan mengambil pelajaran di dalamnya tanpa melalui perantara yang parafrasanya pasti nggak akan sempurna. Meski demikian, saya akan tetap mengambil satu atau dua hal fundamental yang dibahas di situ agar ulasan nggak terlalu singkat dan menjabarkan alasan di balik puja-pujian saya di atas. Dari 10 bab, saya akan mengambil tiga yang saya pribadi anggap paling penting untuk menunjukkan kualitas dari paduan menulis Le Guin.

Di bab pertama Le Guin membahas tentang suara dan sifat fisiknya. Mungkin ini terasa janggal sekilas karena mayoritas waktu membaca kita dihabiskan tanpa mengeja bacaan dengan keras. Namun coba pikirkan lagi bagaimana membaca dalam hati itu kita lakukan. Bukankah seringkali kita pun turut membayangkan bagaimana kata-kata itu berbunyi ketika dibaca keras-keras?

Sesungguhnya menurut saya fundamental bab pertama ini merupakan yang paling penting dari yang lainnya. Bukannya mengesampinkang aspek fundamental lain yang diajarkan dalam 9 bab ke depannya, hanya saja bercermin dari pendidikan formal bahasa yang saya peroleh aspek perihal kefisikan suara ini sangat jarang dibahas. Paling banter biasanya hanya membahas soal rima dalam pantun atau puisi. Padahal sebagaimana yang dibahas oleh Le Guin dalam Steering the Craft, kefisikan suara ini yang akan membentuk ritme tulisan seseorang. Sehingga untuk menggubah sebuah tulisan yang ritmis nggak melulu membutuhkan rima yang sama persis karena kefisikan sebuah kata memiliki kontur suara yang dapat dipasangkan dengan kata lain yang sekilas kelihatan terdengar berbeda. Kurang perhatiannya pengajaran aspek fundamental ini dalam pendidikan bahasa formal kita rasanya menghasilkan paradigma bahwa menulis puisi atau pantun yang “indah” mesti diisi dengan rima-rima yang tumpah ruah.

Alasan saya memilih yang berikutnya terasa sangat pribadi karena Le Guin membahas satu hal yang selalu mengkhawatirkan saya akhir-akhir sebagai penulis: Repetisi. Permasalahan repetisi rasanya dapat ditemui baik oleh pemula maupun veteran. Hanya saja yang membedakan; penulis pemula nggak sadar sementara penulis veteran terlalu sadar terhadap repetisi. Bila penulis pemula rusak kualitas tulisannya karena repetisi itu sendiri, maka penulis veteran rusak kualitas tulisannya karena menghindari repetisi yang sama.

Pada aspek repetisi Le Guin berargumentasi bahwasanya repetisi itu bukanlah hal yang buruk. Repetisi secara struktural dapat menjadi alat yang kuat dalam penyusunan cerita yang digubah oleh seorang penulis. Menurutnya ritme sebuah prosa dapat tercapai melalui repetisi. Dibandingkan dengan puisi yang lebih kuat, repetisi dalam prosa bersifat lebih subtil karena ruang yang ada memungkinkan (bila nggak mengharuskan) jarak pengulangan yang lebih jauh. Menghindari repetisi bahkan dalam satu paragraf itu mustahil, sebagaimana yang Le Guin katakan bahwa itu melawan hakikat prosa naratif sendiri.

Terakhir saya memilih aspek fundamental dalam indirect narration atau narasi tidak langsung atau lebih sering dikenal sebagai tell/menunjukkan. Aspek ini rasanya mustahil luput dalam paduan menulis mana pun. Nggak mengherankan karena memang dia begitu penting. Namun bahkan setelah semua pengulangan dan penekanan yang sedemikian rupa, indirect narration tetap saja diacuhkan oleh banyak penulis terutama penulis pemula. Secara pribadi aspek ini terasa penting karena jenis fiksi yang saya sukai (yakni fantasi, sains fiksi, dan fiksi historis) membutuhkan ruang untuk mendirikan fondasi ceritanya (sebuah sentimen yang juga Le Guin ungkapkan dalam buku ini, mengingat dia pun seorang penulis fantasi dan sains fiksi).

Dari 10 aspek fundamental yang dibahas, dua diantaranya bersifat spesifik pada bahasa Inggris (sangat berguna bagi mereka yang menulis dalam bahasa tersebut). Berarti masih ada lima aspek fundamental lain yang bisa kamu temukan sendiri apabila suatu hari nanti kamu berkesempatan membaca buku ini. Beberapa dari kelima aspek itu membahas tata kebahasaan untuk bahasa Inggris, tapi saya rasa dia nggak sebegitu spesifik jadi masih substansi dari fundamental yang dibahas masih dapat diterapkan secara umum pada bahasa lain. Hal tersebut rasanya hanya dapat dicapai dengan kekayaan ilmu serta kemampuan mengajar Le Guin yang menjadikan buku panduan ini begitu berguna.

Guna melengkapi kepraktisan dari buku panduannya, Le Guin turut menyertakan latihan di dalamnya. Tentu saja ini nggak harus dilakukan oleh mereka yang hanya ingin membaca bukunya saja. Namun latihan-latihan yang diberikan tetap menjadi nilai tambah tersendiri terutama bagi mereka yang memiliki grup penulis karena kebanyakan dari latihan tersebut dirancang untuk dilakukan bersama dengan kelompok.

Sungguh rasanya sulit bagi saya untuk menjabarkan kualitas dari Steering the Craft yang membuatnya bagi saya lebih baik dari On Writing tanpa membeberkan seluruh isinya di sini. Namun saya dapat mengatakan bahwa Steering the Craft mencapai hal tersebut karena Le Guin berhasil membawa pengajaran yang tidak mengeneralisir, dan akomodatif, dua sifat utama yang ditemukan dalam On Writing, dan tetap menghadirkan unsur instruktif dan kepraktisan bersamanya. Penggabungan kedua aspek ini yang menjadikan Steering the Craft merangkap sebagai buku panduan praktis dan juga buku tentang kepenulisan yang resourceful.

Walau pun Steering the Craft  diutamakan bagi penulis berbahasa Inggris, saya merekomendasikannya kepada siapa pun. Pengetahuan yang Le Guin ajarkan di dalamnya merupakan hal universal yang sekiranya akan bermanfaat bagi penulis yang menginginkan “lebih” dari karya mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: