[Resensi] Barichalla

36526134Judul : Barichalla
Pengarang : Khrisna Pabichara
Penerbit :  Noura Book Publishing
Tahun : 2017
Genre : Fantasy
Tebal : 324

Sinopsis

Ranggasela, pangeran Kerajaan Barichalla yang terbuang dan terasing dari tanah kelahirannya setelah adik sang raja memberontak dan mengambil alih tahta kuasa. Balas dendam mendorong Ranggasela mengambil kembali apa yang sudah menjadi trahnya dan membebaskan Barichalla dari tiran. Namun untuk mencapainya, dia harus terlebih menjadi Flyer, yakni ksatria penunggang kuda terbang legendaris yang dipilih langsung oleh Craen.

Ulasan

Ketika membeli dan membaca suatu buku, saya nggak pernah melakukannya secara buta. Biasanya saya cari-cari tahu dulu di internet soal buku yang layak dibaca sebelum berkunjung ke toko. Paling minimal saya akan melakukan riset di tempat apabila kedapatan melihat buku yang menarik terpajang di rak. Kebiasaan ini ada karena saya nggak mau berakhir dengan buku yang ternyata kedapatan punya kualitas yang mengerikan dan jadi terpaksa membacanya.

Kebiasaan itu berlaku sampai saya melihat Barichalla di rak sebuah toko buku di Depok. Sampulnya yang menyerupai sampul Harry Potter terbaru KW sekian nggak bisa disangkal lumayan menyita perhatian saya. Tapi bisa dibilang bukan perkara gaya sampulnya itu sendiri saja yang menarik melainkan juga premis ditampilkan di situ. Jelas kalau Barichalla ini merupakan cerita fantasi yang mengambil setting nusantara, sebuah kelangkaan tersendiri. Bermodal ketertarikan tersebut dan prasangka baik, Barichalla saya bawa pulang ke rumah tanpa googling sama sekali, sebuah pengalaman pertama membeli buta.

Apakah itu jadi pengalaman yang menyenangkan? Saya jawab: Nggak. Alasannya gampang; Barichalla ini benar-benar novel yang banyak cacat sana-sini. Sampai-sampai ketika bukunya habis saya senang karena akhirnya bisa lepas dari penderitaan. Singkat kata, jelek.

Walau membeli buta, saya membacanya bukan tanpa ekspetasi. Karena masih sibuk dengan bacaan lain Barichalla harus saya kesampingkan dahulu. Jeda waktu ini yang akhirnya membikin saya penasaran buku macam apa Barichalla itu sebelum gilirannya benar-benar tiba. Pas saya google judulnya dan kedapatan melihat bintang 2.2 di Goodreads, mau tidak mau sebuah ekspetasi sudah terpatri kepala saya toh?

Kesan pertama yang begitu buruk, dan niat saya bergeser dari sekedar membaca jadi ingin mencari tahu seberapa jeleknya Barichalla. Dari sediki review yang ada di Goodreads, rata-rata mengatakan bahasa Barichalla begitu mendayu-dayu dan meruah-ruah sampai capek membacanya. Saya sendiri justru malah dibuat penasaran karenanya, ingin melihat bahasa mendayu-dayu dan ruah-ruah macam apa yang sampai bisa diganjar bintang dua.

Setelah membacanya sampai habis, saya bisa bilang kalau permasalahan kepenulisan pembahasaannya itu masalah terkecil yang ada di Barichalla. Saya sendiri nggak habis pikir kalau semua permasalahan itu bisa ditemukan di satu novel setebal 300 halaman ini. Tentu saja saya makin terkejut lagi ketika mendapati pengarangnya sudah pernah menulis beberapa buku sebelumnya, walau ini novel fantasi pertama si penulis.

Baiklah, saya akan memulainya dengan persoalan bahasa. Keluhan-keluhan dari review bintang dua itu memang benar adanya. Barichalla ditulis seolah novel yang baik itu harus memiliki bahasa yang ‘berbunga’ selayaknya puisi. Metafora dilempar sana-sini terlepas dari sesuai dengan situasinya atau tidak. Struktur kalimat yang terasa janggal agar dapat mengakomodasi prosa yang ‘indah’. Tanda ‘seru’ yang mengakhiri begitu banyak dialog hingga saya merasa setiap orang berbicara sambil teriak. Gaya bahasa yang bagi saya berusaha menyerupai puisi sialnya ini dapat ditemukan sepanjang novel.

Bahasa puisi memang indah, tapi bukan berarti keindahan tersebut dapat dipindah begitu saja dalam bentuk prosa. Gaya bahasa yang “tumpah ruah” memberikan intensitas yang dibutuhkan puisi untuk menyampaikan isinya secara ringkas. Itu artinya, puisi dibaca secara singkat sehingga intensitas bahasa yang digunakannya nggak akan sampai membuat kita begah.

Berbeda halnya dengan prosa, apalagi wujudnya yang panjang sebagai novel. Kepadatan teks yang ada pada prosa membuat intensitas bahasa seperti puisi mustahil untuk dihadirkan secara terus-menerus. Masalah yang bakal ditimbulkan ialah terganggunya aliran membaca karena bahasa yang kuat atau intens cepat membikin lelah pembacanya. Hasilnya, gaya bahasa yang “tumpah ruah” atau pada novel malah menjadi hal negatif daripada positif.

Ini bukan berarti selamanya bahasa yang “berbunga-bunga” nggak ada tempatnya di prosa. Dengan penggunaan dalam takaran yang tepat, gaya bahasa yang seperti itu benar-benar menjadi nilai positif, seperti yang ditunjukkan dalam novel fantasi lain. Hanya saja dalam Barichalla bahasa tersebut terus dipergunakan sampai cerita berakhir. Walaupun berkurang semakin dalam cerita berjalan, kerangka gaya kepenulisan yang berbunga-bunga tetap bertahan sehingga nggak banyak yang berubah.

Lepas dari persoalan gaya kepenulisan, Barichalla masih dibayangi permasalahan lain yang lebih besar. Masih di soal kepenulisan, narasi dalam Barichalla memiliki flow dan pacing yang berantakan dan bisa dibilang nyaris nil. Cerita pindah dari titik plot ke titik lainnya tanpa adanya prioritas atau bobot dari plot itu sendiri. Adegan konflik yang seharusnya mendapat jatah tampil lebih banyak justru kalah jumlah halamannya dari segmen romans yang menjangkiti novel ini. Hasilnya bagi saya, Barichalla memberi kesan bahwa ceritanya berjalan nggak karuan; awalnya jalan, tiba-tiba loncat ke belakang, lalu lari sprint tiba-tiba, semakin menghilangkan kelancaran membaca yang sudah diganggu oleh gaya bahasanya yang kelewat “tumpah ruah”.

Sebagai novel fantasi tentu saya mengharapkan adanya worldbuilding, baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun seperti aspek kepenulisan lainnya yang bermasalah, begitu juga worldbuilding. Secara kualitas worldbuilding di Barichalla dieksekusi seperti yang biasa dilakukan pemula; lewat eksposisi, eksposisi, dan eksposisi. Semua informasi mengenai dunia Barichalla disampaikan melalui narasi yang mengambil sudut pandang orang pertama sang karakter utama. Sudut pandang ini semakin memperparah eksposisi woldbuilding yang ada karena begitu banyak paragraf eksposisi yang ditumpah tanpa konteks yang memadai. Tepat persoalan worldbuilding ini yang membuat saya salah mengira Barichalla ditulis sebagai novel pertama, benar-benar pertama bukan hanya fantasi, penulisnya.

Permasalahan kuantitas worldbuilding Barichalla bisa dibilang cukup unik dibanding novel fantasi lain. Bilamana novel fantasi lazimnya terlalu banyak menaruh worldbuilding, maka Barichalla adalah sebaliknya. Informasi mengenai dunia Barichalla bisa dikatakan cukup minim dan kurang untuk membangun mood dan tone dari dunianya. Paragraf eksposisi yang sudah ada pun bagi saya berasa nggak begitu relevan dalam worldbuilding secara garis besar. Hasilnya jadi cukup paradoks; walau menggunakan teknik yang heavy-handed, dunia Barichalla masih berasa kosong. (Sejujurnya saya sendiri bingung apa worldbuilding yang sedikit ini hal yang bagus, mengingat kualitas dari worldbuilding-nya itu sendiri).

Akhirnya tiba saat di mana saya akan membahas hal terburuk dari Barichalla. Tadi sebelumnya saya sudah menyebutkan soal “romans yang menjangkit” bukan? Ya, di sinilah permasalahan terbesar Barichalla yang benar-benar menjatuhkan kualitas buku ini bagi saya, melebihi kepenulisan yang biasanya jauh lebih mengusik sebelum-sebelumnya.

Eksekusi romans di Barichalla merupakan yang terburuk dari yang pernah saya baca. Beberapa novel YA yang saya baca memang memiliki elemen romans yang nggak diperlukan, tapi nggak pernah begitu mengganggu jalan ceritanya itu sendiri. Di Barichalla, elemen romansnya begitu kentara hingga membaca novel ini menjadi cobaan tersendiri ketika adegan cinta-cintaannya muncul. Dia mengambil begitu banyak jalan cerita sampai saya bisa bilang sebagai sebab utama hancurnya flow dan nihilnya pace narasi Barichalla karena romans diselipkan hampir di setiap kesempatan.

Buruknya kualitas romans Barichalla bukan hanya perkara kadar berlebihan dan peletakkan yang nggak pada tempatnya. Romans yang dihadirkan begitu anjlok kualitasnya karena ketiadaan chemistry antar karakter yang terlibat. Rasanya percintaan muncul karena kehendak pengarangnya, bukan dari ketertarikan para karakter pada karakter lainnya. Setiap interaksi percintaan yang ada terasa begitu sintetis dan dipaksakan sehingga mau tidak mau saya merasa cringe tiap kali adegan romans muncul di halaman. Buruknya dan keterpaksaan unsur romans ini begitu tergambarkan pada hubungan romansa sang karakter utama: hanya bertemu dua kali, sudah jatuh cinta dan selalu mengungkit kerinduannya di setiap kesempatan. Setiap kesempatan.

Penanganan dan eksekusi romans yang begitu buruk bisa saya atribusikan pada masalah yang lebih fundamental lagi, yakni karakterisasi. Daripada jelek saya bisa bilang lebih tepatnya tidak ada. Karakter-karakter Barichalla terasa begitu hampa karena motivasi yang mereka miliki nggak dikembangkan lebih lanjut dan seringkali berasa lalu-lewat saja. Atau bahkan dalam kasus karakter utamanya, motivasi ini begitu inkonsisten sampai berasa absen. Mengingat narasi Barichalla diceritakan lewat sudut pandangnya, jeleknya karakterisasi utama merembet ke setiap aspek cerita; romans yang terasa dipaksakan, cerita yang urgensinya tidak begitu berasa, dan plot yang begitu loncat-loncat karena karakter utamanya bergerak hanya ceritanya bergerak.

Jelas bahwa Barichalla ialah pembelian yang buruk dan mengecewakan bagi saya, bahkan sebelum menutup halaman terakhir. Fantasi di Indonesia jumlahnya sedikit, apalagi yang mengambil setting ala Nusantara. Barichalla hanya menggunakan fantasi sebagai latar sementara romansnya yang buruk malah dijadikan hidangan utama. Bagi saya yang menggemari fantasi dan memang mengharapkan lebih banyak lagi fantasi bertema nusantara, tentu saja kekecewaan saya jadi berlipat ganda.

Apabila kamu mau membaca cerita fantasi nusantara, ambil saja Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Novel yang satu itu nggak hanya memiliki suasana fantasi yang lebih kental dan bagus, namun juga romans yang lebih baik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: