Not My Hero dan Pesan Politik

Sudah lewat tiga tahun semenjak tulisan terakhir (dan juga pertama) yang membahas sebuah komik secara spesifik (atau lebih tepatnya kompilasi komik). Setelah sekian lama waktu berlalu dan begitu banyak hal berubah serta berkembang, saya rasa sudah saatnya untuk pindah dari hal-hal besar soal perkomikan dan mulai melihat hal yang lebih kecil.
Tahun 2015 dan tahun 2016 adalah tahun yang saya rasa cukup semarak untuk perkomikan Indonesia. Tapi dari sedemikian banyak komik yang hadir dua tahun belakangan, saya ingin berbicara lebih akan Not My Hero yang diterbitkan oleh Kosmik Bercerita tentang Dimas yang mempertanyakan legitimasi kekuatan (dan kekuasaan) kelompok ranger-nya sendiri, Not My Hero merupakan sebuah cerita dekonstruksi tulen. Dia menyalakan saklar realita bukan hanya untuk keren-kerenan, pamer kematian, darah, dan jeroan manusia di gambarnya. Cerita dan tema yang ditampilkan Not My Hero tidak hanya kesungguhan upaya dekonstruksi atas genre tokusenka, namun juga lecutan komentar dan kritik atas kondisi sosial-politik Indonesia.

Continue reading “Not My Hero dan Pesan Politik”